Hot Widget

Type Here to Get Search Results !

Sains Fitri oleh ReO Fiksiwan

“Marilah kita berhati-hati dalam mengatakan bahwa kematian adalah lawan dari kehidupan. Makhluk hidup hanyalah spesies dari orang mati, dan spesies yang sangat langka.” — Friedrich Nietzsche(1883-1990), The Gay Science(1882).

Sebelum Jim Al Khalili(62), profesor fisika teoretis dan perintis sains populer keturunan Irak-Inggris, melawaskan buku „Sukacita Sains“(The Joy of Science), pada 1882, Friedrich Nietzsche lebih awal dengan karyanya, The Gay Science(Fröchliche Wissenschaft), „Sains Menyenangkan.“

Kritik Nietzsche yang tersaji dalam „Sains Menyenangkan“ terkait dengan lima topik, masing-masing kritik sains terhadap nilai-nilai tradisional yang berdasarkan pada agama, moralitas, dan kebudayaan.

Selanjutnya, pengembangan konsep "Der Wille zur Macht" sebagai dasar dari semua kehidupan yang sangat didesakkan menyusul konsep „Ubermensch" sebagai cita-cita manusia yang telah melampaui nilai-nilai tradisional dan moralitas.

Kedua terakhir, Nietzsche mengembangkan konsep "Ewige Wiederkehr" sebagai konsep tentang „kembalinya yang abadi“ — Eliade menyebut sebagai „cosmological return“ antara profan dan sakral — merupakan kritik metafisika mutakhir disusul konsep „Perspektivisme"' sebagai konsep tentang relativitas pengetahuan dan kebenaran.

Sementara, secara mutakhir pula, Al Khalili mengemukan empat topik „Sains Sukacita“ dengan kebenaran dan ketidakpastian dalam membuat keputusan.

Selain itu, Al Khalili menekankan pentingnya mengenali dan mengatasi bias dan prasangka dalam berpikir dan membuat keputusan secara ilmiah.

Sementara dua yang terakhir, menghargai bukti dan evidensi dalam membuat keputusan dan memahami dunia satu hal penting.

Tak kalah penting pula, bagaimana mengembangkan pikiran kritis dalam memahami dunia dan membuat keputusan.

Berangkat dari dua model sains di atas, sains fitri yang diproduksi paska 30 hari latihan dalam mengendalikan aktivitas fisik dan psikis selama ramadhan, pun penting direfleksikan.

Selama sebulan penuh melatih diri berpuasa, beribadah, dan berusaha untuk menjadi lebih dekat dengan Tuhan, mirip meriset perangkat anatomi tubuh secara lengkap dan mandiri.

Namun, sehabis ramadhan pun, sering kali merasa kehilangan momentum dan keseimbangan dalam hidup kita terus diuji dalam "hakikat fitri".

Menurut psikolog Islam, Dr. Muhammad Uthman Najati(2015), hakikat fitri adalah keadaan jiwa yang seimbang dan tenang, yang dicapai melalui proses penyucian dan pemurnian diri.

Dalam konteks ramadhan, hakikat fitri dapat dicapai melalui proses puasa, ibadah, dan refleksi diri.

Atau, paska ramadhan, sering kali mengalami kesulitan untuk mempertahankan keseimbangan jiwa dan raga yang justru baru sebulan kemudian diuji?

Menurut penelitian yang dilakukan oleh Dr. Malik Badri(2017), seorang psikolog Islam pencetus psikologi lubang buaya, kesulitan mengalami ketimpangan fisik dan psikis dapat dipicu beberapa faktor, di antaranya perubahan pola makan, kurangnya aktivitas fisik, dan stres.

Untuk membangun kembali keseimbangan jiwa dan raga sehabis ramadhan, kita perlu melakukan beberapa hal. Pertama, kita perlu mempertahankan pola makan yang seimbang dan sehat. 

Dalam penelitian lain yang dilakukan oleh Dr. Abdul Hakim Quick(2019), seorang ahli gizi Islam, pola makan yang seimbang dan sehat dapat membantu meningkatkan keseimbangan jiwa dan raga.

Kedua, kita perlu meningkatkan aktivitas fisik kita.Merujuk pada penelitian yang dilakukan oleh Dr. Muhammad Ali(2020), seorang ahli olahraga Islam, mengungkapkan bahwa aktivitas fisik dapat membantu meningkatkan keseimbangan jiwa dan raga.

Ketiga, kita perlu mempertahankan aktivitas spiritual kita. Riset yang dilakukan oleh Dr. Umar Faruq Abd-Allah(2018), seorang ahli spiritualitas Islam, mengungkap bahwa aktivitas spiritual dapat membantu meningkatkan keseimbangan jiwa dan raga. 

Dengan kata lain, hakikat fitri sehabis ramadhan dalam perspektif sains dengan metode Popper, verifikasi dan falsafikasi, dapat mengungkap keadaan jiwa yang seimbang dan tenang(muth’mainah) dan dapat dicapai melalui proses penyucian dan pemurnian diri(via purgativa).

Untuk membangun kembali keseimbangan jiwa dan raga sehabis ramadhan ini, perlu menjaga pola makan yang seimbang dan sehat, meningkatkan aktivitas fisik kita, dan mempertahankan aktivitas spiritual kita. 

Semestinya, Ini yang dituju sains fitri: la’allakum tata’qun(لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ). Artinya: ada konsistensi dan “pengulangan abadi(ewige Wiederkehr).

#RUJUKAN:

Abd-Allah, U. F. (2018). The spiritual dimensions of fasting. Journal of Islamic Studies, 29(1), 1-15.

Ali, M. (2020). The effects of physical activity on mental health in Islamic perspective. Journal of Sports Science and Medicine, 19(3), 249-256.

Al Khalili, Jim.(2022). The Joy of Science. New Jersey: Princenton University Press.

Badri, M. (2017). The impact of Ramadan fasting on mental health. Journal of Islamic Studies, 28(2), 1-12.

Najati, M. U. (2015). The concept of fitrah in Islamic psychology. Journal of Islamic Studies, 26(1), 1-15.

Nietzsche, Friedrich.(2006). The Gay Science. USA: Dover Publication.

Quick, A. H. (2019). Nutrition and fasting in Islamic perspective. Journal of Islamic Studies, 30(1), 1-12.

Posting Komentar

0 Komentar
* Please Don't Spam Here. All the Comments are Reviewed by Admin.

Hollywood Movies