![]() |
#30HariMenulisPuisiEsai
PuisiEsai 28
(Untuk mereka yang percaya buku masih bisa menyelamatkan manusia, meski dunia berlomba-lomba melupakan)
Di sudut kota, Raka menata buku di lapak kecilnya,
Lembaran halaman sunyi di antara bising notifikasi,
tangan-tangan berlalu tanpa menoleh,
lebih tertarik pada layar yang berkedip di genggaman. (1)
Ia pernah percaya, kata-kata bisa menyalakan cahaya,
membuka mata yang terlelap di balik bias digital.
Namun hari ini, ia bertanya pada dirinya sendiri,
Masih adakah yang butuh pustaka
di zaman yang menyembah gulir tanpa henti?
Anak-anak datang bukan untuk membaca,
mereka ingin koneksi Wi-Fi, bukan lembaran informasi,
"Apa gunanya buku, Kak? Semua ada di internet, cepat dan gratis,"
ucap seorang bocah yang lebih hafal nama influencer
daripada tokoh di buku sejarah. (2)
Namun Raka bertahan, meski sering kali sendiri,
membaca keras-keras di tengah hiruk pikuk pasar,
seperti suara samar yang menolak tenggelam.
Ia tahu, di antara ratusan yang lewat,
mungkin ada satu hati yang tersentuh,
mungkin ada satu pikiran yang terjaga.
Suatu hari, datang seorang gadis bernama Mira,
matanya sayu, tubuhnya kurus.
Ia memungut buku dari lapak Raka,
menghitung receh di saku jaketnya yang lusuh.
"Aku ingin jadi dokter," bisiknya pelan,
tapi sekolah terasa jauh
bagi yang tak punya kuota.
Mira membaca di bawah lampu jalan,
menghapal anatomi tubuh dari buku usang,
karena ia tahu: di dunia yang memilih yang cepat,
hanya pengetahuan yang bisa membuatnya bertahan. (3)
Namun, dunia tidak selalu ramah bagi yang berjuang untuk kebaikan,
Suatu malam, lapak Raka dirampas petugas,
"Ini mengganggu ketertiban," kata mereka,
seperti kata-kata sudah tak punya tempat
di kota yang dikuasai algoritma.
Raka marah, tapi ia tak berhenti.
Karena di wajah Mira, ia melihat harapan:
bahwa kata-kata belum sepenuhnya kalah,
belum sepenuhnya pudar.
Ia kembali ke pasar, membuka lapaknya lagi,
menyusun buku-buku yang tetap menunggu
mereka yang berani membaca di antara gulir yang lupa.
Ia percaya, bahwa di dunia yang serba digitalisasi,
akan selalu ada seseorang yang mencari makna
lebih dari sekadar kilas layar yang memudar.
Dan untuk orang-orang seperti itu,
ia akan terus bertahan.
Menggenggam buku ditangan.
Membagikan kata pada dunia untuk perubahan.
---ooo---
CATATAN:
(1) Sebuah laporan dari UNESCO menyatakan bahwa minat baca di Indonesia masih rendah, dengan rata-rata hanya 0,001% dari populasi yang memiliki kebiasaan membaca secara rutin. Sementara itu, konsumsi media digital terus meningkat drastis. (Sumber: UNESCO, 2024)
(2) Survei Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) menunjukkan bahwa 73% remaja di Indonesia menghabiskan lebih dari 5 jam sehari di media sosial, jauh melebihi waktu yang dihabiskan untuk membaca buku atau materi edukasi. (Sumber: APJII, 2023)
(3) Menurut UNICEF, sekitar 4,4 juta anak di Indonesia berisiko putus sekolah akibat ketimpangan akses pendidikan, terutama di daerah urban miskin. Anak-anak ini seringkali kehilangan kesempatan karena keterbatasan ekonomi dan kurangnya fasilitas literasi. (Sumber: UNICEF, 2023)