Hot Widget

Type Here to Get Search Results !

"ISTIQAMAH PASCA RAMADHAN: Hamba Allah, Bukan Hamba Ramadhan" Oleh: Duski Samad

Menjaga ketaatan setelah Ramadhan memang tantangan besar. Selama Ramadhan, sudah terbiasa dengan ibadah yang intens—puasa, shalat malam, tilawah Qur’an, dan sedekah. Tapi setelahnya, ritme itu menurun. Nah, supaya tetap konsisten, ada beberapa hal yang bisa dilakukan di antaranya melanjutkan Puasa Sunnah. Minimal puasa enam hari di bulan Syawal (puasa Syawal), karena pahalanya seperti puasa setahun penuh. Bisa juga lanjut dengan Senin-Kamis atau puasa Ayyamul Bidh (13, 14, 15 setiap bulan hijriyah).

Mempertahankan shalat malam. Kalau nggak kuat tahajud panjang seperti di Ramadhan, minimal shalat witir sebelum tidur atau dua rakaat sebelum subuh. Konsisten Baca Qur’an. Jangan sampai Qur’an cuma dibaca saat Ramadhan. Bikin target harian, misalnya satu halaman atau satu juz per hari. 

Perbanyak Dzikir dan Doa. Biasakan dzikir pagi-petang, istighfar, shalawat, dan doa harian supaya hati tetap terjaga. Tetap Bersedekah. Sedekah itu nggak harus besar, yang penting rutin. Bisa mulai dari yang kecil tapi istiqamah. Jaga Lingkungan dan Teman yang Baik. Cari komunitas atau teman yang juga ingin tetap istiqamah. Kalau ada majelis ilmu, ikut supaya iman tetap terjaga. 

Hindari Maksiat dan Godaan Dunia. Setelah Ramadhan, setan kembali bebas. Jaga diri dari kebiasaan lama yang bisa menurunkan semangat ibadah.

Intinya, jangan sampai kita hanya menjadi "hamba Ramadhan", tapi jadilah "hamba Allah" sepanjang tahun. 

ISTIQAMAHNYA HAMBA ALLAH

Sejati manusia adalah hamba Allah swt, (QS. Aldzariyat 57) dan ibadah hanya ikhlas karena Allah semata (QS.Albayyinah). Untuk menjaga penghambaan Allah menegaskan dalam

Surat Fussilat (41) Ayat 30-33. Ayat ini adalah bimbingan terhadap istiqamah. Ibnu Katsir menjelaskan bahwa ayat ini berbicara tentang keutamaan istiqamah (konsisten dalam keimanan dan ketaatan kepada Allah). Orang-orang yang istiqamah akan mendapatkan kabar gembira dari malaikat saat menghadapi kematian, di alam kubur, dan pada hari kebangkitan. Malaikat menenangkan mereka, menghilangkan ketakutan dan kesedihan, serta memberi kabar surga.

Pada ayat 32: Surga itu adalah tempat penuh nikmat yang disediakan Allah bagi mereka sebagai balasan atas ketaatan dan keteguhan mereka di dunia. Ayat 33: Ayat ini menunjukkan keutamaan berdakwah, di mana tidak ada perkataan yang lebih baik daripada seruan kepada kebaikan dan tauhid. Ayat ini sering dikaitkan dengan tugas para rasul dan ulama.

Menurut Tafsir Al-Baghawi

Ayat 30-31: Al-Baghawi menyebut bahwa malaikat akan turun kepada orang-orang yang istiqamah dalam tiga keadaan: saat sakaratul maut, di alam kubur, dan pada hari kebangkitan. Malaikat memberi mereka ketenangan dan kabar gembira tentang surga. 

Ayat 32: Surga yang mereka dapatkan adalah hadiah dari Allah yang penuh rahmat. Ayat 33: Orang terbaik adalah mereka yang mengajak kepada Islam, beramal saleh, dan mendakwahkan diri sebagai Muslim. Ini bisa mencakup para nabi, ulama, dan siapa saja yang mengajak kepada kebaikan.

Dalam Tafsir Ath-Thabari

Ayat 30-31: Ath-Thabari menafsirkan bahwa istiqamah berarti beriman kepada Allah dan menjalankan syariat-Nya tanpa menyimpang. Malaikat akan turun dengan membawa ketenangan bagi mereka yang istiqamah.

Ayat 32: Surga adalah kenikmatan abadi yang diberikan kepada mereka yang taat. Ayat 33: Orang yang paling baik adalah yang mengajak ke jalan Allah dengan ilmu dan perbuatan baik. Dakwah harus dilakukan dengan hikmah dan keteladanan.

Tafsir Kontemporer Al-Misbah (Quraish Shihab).Ayat 30-31: Quraish Shihab menjelaskan bahwa istiqamah bukan sekadar percaya kepada Allah, tetapi tetap teguh dalam keimanan dan perbuatan baik, meskipun menghadapi tantangan. Malaikat datang memberi ketenangan sebagai bentuk perlindungan Allah bagi mereka yang istiqamah.

Ayat 32: Surga digambarkan sebagai tempat yang penuh kasih sayang dan ampunan, bukan hanya sebagai balasan, tetapi juga sebagai bukti rahmat Allah. Ayat 33: Tidak ada yang lebih baik daripada menyeru kepada Allah dan berbuat kebaikan. Ini mencakup dakwah dalam arti luas, baik melalui lisan, tulisan, maupun keteladanan dalam kehidupan.

Tafsir Sayyid Qutb (Fi Zhilalil Qur'an). Ayat 30-31: Sayyid Qutb melihat ayat ini sebagai bentuk motivasi bagi orang beriman agar tidak takut menghadapi kematian atau kehidupan dunia yang penuh ujian. Malaikat turun sebagai bentuk kasih sayang Allah kepada mereka yang istiqamah.

Ayat 32: Surga bukan sekadar tempat balasan, tetapi juga sebagai bentuk pemuliaan bagi mereka yang menjaga keimanan dan amalnya. Ayat 33: Ayat ini menekankan pentingnya dakwah yang dilakukan dengan cara yang baik, karena dakwah adalah tugas mulia yang harus dilakukan dengan keikhlasan dan kebaikan.

Tafsir Wahbah Az-Zuhaili (Tafsir Al-Munir). Ayat 30-31: Wahbah Az-Zuhaili menjelaskan bahwa istiqamah mencakup keselarasan antara keyakinan, ucapan, dan perbuatan. Orang yang istiqamah akan merasakan ketenangan dalam hidup dan mati.

Ayat 32: Surga adalah balasan yang penuh dengan kasih sayang Allah, bukan hanya sekadar upah atas amal saleh. Ayat 33: Dakwah adalah tugas mulia, dan orang yang melakukannya dengan baik akan mendapatkan derajat tinggi di sisi Allah.

ANALISA ILMIAH 

Analisis ilmiah kajian psikologi: Konsistensi dan Kebiasaan. Menurut teori habit formation dalam psikologi, kebiasaan terbentuk melalui pengulangan perilaku dalam konteks yang sama. Ramadhan berperan sebagai "training ground" untuk ibadah intensif, tetapi setelahnya, jika tidak ada usaha mempertahankan kebiasaan ini, kecenderungan kembali ke pola lama meningkat.

Teori Self-Regulation (Baumeister, 1994):

Disiplin diri seseorang bisa berkurang setelah periode intensif jika tidak ada sistem yang mendukungnya. Puasa sunnah, shalat malam, dan dzikir yang disebut dalam tausiyah adalah metode yang dapat memperpanjang efek regulasi diri pasca-Ramadhan.

Neuroscience of Habit (Duhigg, 2012): Kebiasaan terbentuk dalam tiga tahap: cue (pemicu), routine (rutinitas), dan reward (hadiah). Ramadhan menciptakan sistem ini, tetapi setelahnya perlu strategi untuk mempertahankan cue yang sama, misalnya dengan tetap berinteraksi dengan komunitas yang mendukung ibadah.

Ilmu Sosiologi: Pengaruh Lingkungan dan Komunitas. Tausiyah ini juga menyoroti pentingnya komunitas dan lingkungan dalam menjaga ketaatan. Dalam sosiologi, ada konsep social reinforcement (penguatan sosial), di mana seseorang lebih mudah mempertahankan kebiasaan jika lingkungannya mendukung.

Social Learning Theory (Bandura, 1977):

Seseorang cenderung meniru perilaku orang di sekitarnya. Jika setelah Ramadhan kita tetap berada dalam lingkungan yang islami (seperti mengikuti kajian atau majelis ilmu), peluang untuk tetap taat lebih tinggi.

Group Dynamics and Religious Practice (Durkheim, 1912): Dalam studinya tentang agama, Durkheim menekankan bahwa praktik keagamaan lebih mudah dipertahankan dalam kelompok daripada secara individual. Tausiyah ini menekankan pentingnya menjaga lingkungan yang baik, yang sejalan dengan teori ini.

Kajian Studi Agama dan Tafsir. Analisis ayat-ayat yang dikutip dalam tausiyah ini menunjukkan bahwa istiqamah adalah nilai utama dalam Islam. Tafsir klasik seperti Ibnu Katsir, Al-Baghawi, dan Ath-Thabari sepakat bahwa istiqamah adalah syarat utama untuk mendapatkan ketenangan hidup dan jaminan surga.

Konteks Ayat Fussilat (41:30-33): ayat ini berbicara tentang bagaimana malaikat menenangkan orang-orang yang istiqamah, menghilangkan rasa takut dan memberi kabar gembira. Dalam konteks psikologis, ini bisa dihubungkan dengan peace of mind yang dirasakan oleh mereka yang menjaga ketaatan.

Tafsir Kontemporer (Quraish Shihab, Sayyid Qutb, Wahbah Az-Zuhaili):

Tafsir modern menekankan bahwa istiqamah bukan hanya tentang keyakinan, tetapi juga harus diwujudkan dalam perbuatan. Ini relevan dengan konsep cognitive dissonance (Festinger, 1957) dalam psikologi, di mana ketidaksesuaian antara keyakinan dan tindakan bisa menimbulkan ketidaknyamanan psikologis.

Kesimpulan

Menjaga ketaatan setelah Ramadhan adalah tantangan yang membutuhkan komitmen dan strategi yang tepat. Tausiyah ini menekankan pentingnya istiqamah dalam ibadah dengan berbagai langkah praktis, seperti puasa sunnah, shalat malam, membaca Qur’an, dzikir, sedekah, menjaga lingkungan yang baik, serta menjauhi maksiat.

Dari perspektif psikologi, ketaatan bisa dijaga dengan memahami pembentukan kebiasaan dan self-regulation, di mana rutinitas Ramadhan perlu diperpanjang agar menjadi kebiasaan tetap. 

Sosiologi menekankan bahwa lingkungan sosial berperan besar dalam membentuk perilaku religius. Berada dalam komunitas yang mendukung akan membantu seseorang tetap istiqamah. Studi agama dan tafsir menunjukkan bahwa istiqamah dalam iman dan amal saleh akan membawa ketenangan hidup serta jaminan kebahagiaan di akhirat.

Kesimpulannya, agar tidak menjadi "hamba Ramadhan" yang hanya rajin beribadah selama bulan suci, umat Islam perlu menjadi "hamba Allah" sepanjang tahun dengan menerapkan kebiasaan baik yang telah dibangun selama Ramadhan ke dalam kehidupan sehari-hari.

Ds.28032025.

*Taushiyah Ramadhan Masjid Al Hakim Taplau Padang Jumat 28 Maret 2025



Posting Komentar

0 Komentar
* Please Don't Spam Here. All the Comments are Reviewed by Admin.